Senin, 20 Juli 2009

Peluang Bisnis Menanam Lada

Lada (piper negrun) merupakan jenis rempah-rempah yang mempunyai permintaan cukup tinggi. Digunakan dalam skala besar pada industri jamu. Sementara permintaan pasar Eropa pun tidak kalah kuatnya. Besarnya potensi lada ini dapat diilustrasikan dalam harga yang mencapai di atas Rp. 100.000 per Kg.
Sebetulnya tanaman lada belum begitu memasyarakat secara luas, namun demikian secara agroklimat tanaman ini sangat cocok dikembangkan di Kabupaten Tasikmalaya. Jenis lada yang dianjurkan dikembangkan adalah jenis perdu yang relatif lebih mudah pemeliharaan dan penanganan pada saat panen.Pengembangan tanaman lada di samping memiliki tujuan untuk meningkatkan pendapatan petani, juga memiliki keuntungan lainnya:
  • Meningkatkan produktivitas lahan kering yang banyak tersebar di wilayah Tasikmalaya, sementara pemanfaatannya belum maksimal.
  • Karena tanaman lada dapat ditanam di antara tanaman tegakan, pengembangan tanaman lada merupakan salah satu upaya konservasi lahan.
  • Mencari peluang ekspor, untuk meningkatkan penerimaan devisa dari komoditas bukan minyak dan gas.
A. PROSPEK PASAR

Permintaan lada selain dari industri jamu dan pasar ekspor, permintaan lada juga cukup banyak dari hotel dan restoran sebagai bumbu masak atau pelengkap dalam sajian hidangan. Dengan demikian pengembangan lada ini juga dapat bermuara pada industri pariwisata melalui usaha hotel dan restoran.

Tidak dapat dipungkiri bahwa harga lada mengalami fluktuasi yang cukup tajam. Harga lada kadang-kadang mencapai harga di atas Rp.100.000, namun demikian harga terendah yang terjadi belum sampai di bawah Rp.25.000. Untuk ukuran petani yang mengelola lahan kering penawaran harga tersebut merupakan insentif yang menarik. Bandingkan misalnya dengan harga ubi kayu yang sama-sama ditanam di lahan kering yang hanya mencapai harga Rp.200 – Rp.300 per Kg. Pemasaran lada dalam kapasitas kecil masih dapat diserap oleh pasar regional, namun pemasaran dalam jumlah besar serta diarahkan untuk ekspor biasanya melalui Asosiasi Pemasaran Lada.

B. DUKUNGAN SUMBER DAYA LOKAL

Beberapa tempat yang sudah memulai pengembangan Tasikmalaya lada antara lain Kecamatan Salopa, Manonjaya, Cineam, Cikatomas, Bantarkalong, Salawu, Cisayong, dan Cipatujah. Sampai tahun 1999 luas tanam di Tasikmalaya diperkirakan mencapai 46 hektar dengan produksi rata-rata 19,78 ton per tahun.

C. PELUANG DAN KELAYAKAN INVESTASI

Secara ekonomis usahatani lada cukup menjanjikan. Sebagai gambaran, berdasarkan perhitungan dari usaha selama 10 tahun ternyata investasi yang ditanamkan pada usahatani lada untuk luas lahan 5 hektar, mampu dikembalikan setelah usaha tersebut berjalan selama 2 tahun 6 bulan. Artinya setelah tahun ketiga dan seterusnya pengusaha tinggal memperoleh keuntungan dari usahanya. Berdasarkan perhitungan analisis pembiayaan, maka biaya produksi yang harus dikeluarkan untuk luas pengusahaan 5 hektar menggunakan pola monokultur adalah sebesar Rp.565.668.00 atau sebesar Rp.113.133.600 per hektar. Struktur Biaya terdiri atas:

  • Investasi modal tetap Rp.68.375.000
  • Biaya operasional produksi satu siklus selama 10 tahun sebesar Rp.497.293.000

6 komentar:

  1. Kita Ada lahan 10 ha, ada yg minat inves unt budidaya lada perdu?

    BalasHapus
  2. Kita Ada lahan 10 ha, ada yg minat inves unt budidaya lada perdu?

    BalasHapus
  3. Kita Ada lahan 10 ha, ada yg minat inves unt budidaya lada perdu?

    BalasHapus
  4. Kita Ada lahan 10 ha, ada yg minat inves unt budidaya lada perdu?

    BalasHapus
  5. Kita Ada lahan 10 ha, ada yg minat inves unt budidaya lada perdu?

    BalasHapus


  6. Tommy Cuex26 Februari 2016 21.06

    Kita Ada lahan +25 ha, ada yg minat inves unt budidaya lada perdu?

    BalasHapus

Ayo ikikan komentarmu disini, blog ini DoFollow kok!