Pendahuluan Pensyarah
إن الحمد لله، نحمده، ونستعينه، ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صلوات الله وسلامه عليه، وعلى اله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.
Segala puji hanya milik Alloh, kami memuji dan memohon ampunan dosa hanya kepadaNya. Demikian pula kami berlindung kepadaNya dari jeleknya jiwa dan amal. Barangsiapa yang telah Alloh berikan hidayah kepadanya, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa yang telah Alloh sesatkan, maka tidak ada yang bisa memberikan hidayah kepadanya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Alloh semata; tiada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad merupakan hamba dan rosulNya. Sholawat dan salam atasnya r, demikian pula atas keluarganya, sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai datangnya hari kiamat.
Amma ba'du. Ilmu merupakan sesuatu yang paling mulia untuk dicari dan diharapkan. Dengan ilmu seorang hamba sampai kepada derajat orang-orang pilihan dan terbaik; di dunia dan diakhirat.
Kemudian, diantara ilmu yang paling mulia dan tinggi –setelah kitabulloh– adalah ilmu/pengetahuan tentang sunnah rosululloh r; tentang riwayat dan diroyat, keduanya merupakan asas bagi pengambilan hukum-hukum syari'ah.
Para ulama terdahulu telah mencurahkan metode seperti ini dalam menulisakan suatu dalil. Mereka menempuh sistematika yang berbeda-beda.
Diantara metode tersebut adalah meringkas hadits-hadits hukum syar'iyah; tidak mencantumkan hadits-hadits yang berkaitan dengan aqidah, peperangan, biografi, adab dan yang lainnya. Demikian itu untuk mudah dihapal oleh pencari ilmu serta untuk mendekatkannya tatkala beristidlal.
Diantara mereka itu; yakni yang menulis dengan metode seperti itu adalah Al-Hafidz Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqolani rohimahulloh, beliau diwafatkan pada tahun 852 H. Dalam kitabnya 'Bulughul Marrom min Adilatil Ahkam' beliau mengumpulkan pokok-pokok hadits-hadits hukum syar'iyah.
Beliau menyusunnya berdasarkan bab-bab fiqih yang masyhur, demikian itu untuk memudahkan para pembaca tatkala harus kembali mengulanginya.
Beliau tidak hanya membatasi diri pada hadits-hadits yang sahih saja, bahkan beliau pun membawakan sebagian hadits-hadits yang lemah (dlho'if), demikian itu supaya pencari ilmu mengetahui hadits-hadits lemah di dalam masalah tersebut. Mengetahui hadits yang sahih ilmu, demikian pula mengetahui hadits yang lemah pun merupakan ilmu. Tujuannya supaya pencari ilmu bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya, jika bagi hadits lemah tersebut terdapat syawahid atau jalan yang lainnya maka dibahas tentangnya, sehingga jelas baginya : Apakah hadits-hadits tersebut saling menguatkan ataukah tidak ?
Kadang Al-Hafidz mencukupkan dengan 'kitab' dan 'bab-bab secara umum', tidak memberikan judul kepada setiap hadits. Demikian itu seperti yang dilakukan oleh Al-Majd dalam kitab 'Al-Muntaqo'. Di akhir kitab al-Hafidz mencantumkan 'Kitabul Jami' bagi adab-adab, seakan-akan membekali para pencari ilmu setelah mereka menghapal hadits-hadits hukum; yakni menutup dengan
hadits-hadits adab untuk dihapal pula. Karena para pencari ilmu sangat membutuhkannya.
Jumlah hadits yang terdapat di dalam kitab ini 1568 hadits. Jumlah ini kadang bertambah dan berkurang, demikian itu disebabkan bedanya cetakan kitab dan sisi pandang terhadap riwayat dan atsar.
Keistimewaan Kitab Bulughul Marrom
Kitab ini memiliki banyak keistimewaan, setiap peneliti dan pemerhati kitab bisa menentukannya. Diantara keistimewaannya yang paling menonjol adalah :- Beliau menyusun kitab-kitab, bab-bab dan hadits-haditsnya berdasarkan abwab fiqih –sebagimana telah lalu-. Beliau menyebutkan nama kitab, kemudian bab dan kemudian menyebutkan hadits-hadits yang dikhususkan bagi bab tersebut.
Terkadang pula menyebutkan kitab kemudian hadits, yakni tidak menybutkan bab. Demikian itu seperti pada 'Kitab Haji' dan permulaan 'Kitab Zakat', 'shiyam', 'Nikah' dan yang selainnya. - Beliau mencukupkan diri dengan menyebutkan hadits-hadits yang marfu saja, tidak menyebutkan hadits-hadits mauquf kecuali sedikit. Sebagimana pada 'Kitab Nikah', 'Babul Ila, 'Babul 'iddah' dan yang lainnya.
- Beliau meringkas hadits-hadits yang panjang dengan peringkasan yang sangat baik. Di dalamnya tidak terdapat perubahan ibaroh dan tidak mendahulukan yang akhir pengisyaratannya. Beliau meringkas dengan hanya membawakan lafadz yang digunakan untuk beristidlal saja.
- Beliau membuang sanad dan mencukupkan diri pada riwayat-riwayat yang paling tinggi saja. Tapi kadang pula menyebutkan rowi yang lebih rendah sebelumya, demikian untuk suatu tujuan tertentu, dan itu sangat sedikit sekali.
- Beliau pada kebanyakannya senantiasa menyebutkan derajat hadits, tentang sahih, hasan atau dlho'if. Pernyataan tersebut kadang dikutif dari yang lainnya atau beliau menghukuminya sendiri. Ini merupakan keistimewaan yang paling menonjol. Walaupun sangat jarang sekali beliau menjelasakan tentang sebab kedlo'ifannya. Mudah-mudahan dikarenakan ingin meringkas.
Keistimewaan seperti ini luput pada kitab 'Al-Muntaqo' karya Al-Majd, karena beliau hanya menyebutkan hadits dan tempat pengambilannya, tanpa menyebutkan derajat hadits-hadits tersebut. - Kadang beliau menyebutkan sesuatu yang ada pada isnad tersebut, dari irsal, inqitho' atau mauquf. Kadang pula beliau menguatkan, demikian itu jika hadits tersebut memiliki banyak isnad. Semuanya itu dengan ibaroh yang ringkas.
- Terkadang beliau menyebutkan riwayat-riwayat dan hadits-hadits yang mengikuti hadits yang dijadikan pokok olehnya rohimahulloh. Tidaklah beliau melakukan hal tersebut kecuali untuk faidah; mentaqyid yang mutlaq, merinci yang mujmal, menjelaskan yang sulit, menolak kesamaran dan yang sejenisnya.
Dalam masalah ini aku memberikan perhatian khusus, demikian itu dengan menyebutkan tujuan al-Hafidz membawakan riwayat-riwayat tersebut setalah disebutkannya hadits pokok. Sepengtahuanku para pensyarah kitab banyak terlalaikan di dalam masalah ini. - Alloh Ta'ala telah menjadikan kitab ini diterima dikalangan ahli ilmu, baik dulu atau pun sekarang. Para ulama memujinya, tersebar dikalangan pencari ilmu dan mereka menerima untuk menghapalnya[1].
Faidah Dari Muqoddimah Ibnu Utsaimin Dalam Syarhu Bulughul Marrom :
- Al-Kitab dan As-Sunnah merupakan usul hukum yang kita beribadah dengan keduanya[2].
- Setiap hadits yang sahih maka hukumnya seperti hukum Al-Qur'an, oleh karenanya Rosululloh memperingatkan dari orang-orang yang hanya mencukupkan diri dengan al-Qur'an semata.
- Ijma', ijma hanya tetap dengan al-Qur'an dan as-Sunnah. Andaikan tidak ada al-Qur'an dan as-Sunnah niscaya tidak akan ada ijma, demikian pula qias.
- Al-Qur'an al-'Adzim tidak memerlukan penelitian untuk menetapkan kesahihannya; karena semuanya dinukuil secara mutawatir. Akan tetapi yang diperlukan darinya adalah : Memperhatikan dalalah ayat tersebut terhadap suatu hukum. Dan di dalam masalah ini kemampuan manusia berbeda-beda.
- As-Sunnah, ia memerlukan pada dua hal : (1). Meneliti tentang keteapan hadits tersebut dari Rosululloh r. Karena hadits itu ada yang sahih, hasan, dzo'if, maudhu' dan yang lainnya. (2). Melihat dan memperhatikan dalalah hadits tersebut pada suatu hukum.
Kekhususan Al-Qur'an dan As-Sunnah.
1- أن هذا الأصل وحي من الله، فالقرآن الكريم كلامه سبحانه، والسنة النبوية بيانه ووحيه إلى رسوله r؛ قال تعالى: ]وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى* إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى[ [النجم: 3، 4].
1. Al-Qur'an dan as-Sunnah merupakan wahyu dari Alloh Ta'ala. Al-Qur'an al-Karim merupakan firman-Nya sunhanahu, demikian pula as-Sunnah an-Nabawiyah, ia merupakan penjelasan dan wahyu-Nya kepada Rosul-Nya r; Alloh Ta'ala berfirman : "Dan tidaklah dia berkata dari hawa nafsunya, hanya saja dia berkata dengan wahyu yang diwahyukan (kepadanya)". (QS. An-Najm : 3 dan 4).
2- أن هذا الأصل إنما بلغنا عن رسول الله r؛ لأنه لا سماع لنا من الله تعالى، ولا من جبريل عليه السلام، فالكتاب سُمع منه تبليغًا، والسنة تصدر عنه تبيينًا، وقد قال تعالى آمرًا نبيه r أن يقول: ]وأوحي إلي هذا القرآن لأنذركم به ومن بلغ[ [الأنعام: 19].
2. Hanya saja al-Kitab dan as-Sunnah sampai kepada kita melalui Rosululloh r; Karena tidak ada pendengaran bagi kita dari Alloh Ta'ala, tidak pula dari Jibril 'alaihis salaam. Al-Kitab di dengar darinya sebagai penyampai, as-Sunnah bersumber darinya sebagai penjelas. Alloh Ta'ala berfirman; yakni memerintahkan nabiNya r untuk berkata : "dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia Aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya)". (QS. Al-An'am : 19).
3- أن الله سبحانه وتعالى قد تكفل بحفظ هذا الأصل، كما قال سبحانه: ]إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون [ [الحجر: 9] ، قال ابن القيم: "والله تعالى قد ضمن حفظ ما أوحاه إليه r وأنزل عليه؛ ليقيم به حجته على العباد إلى آخر الدهر".
3. Alloh subhanahu wa Ta'ala telah menjamin untuk menjaga al-Qur'an dan as-Sunnah. Demikian itu sebagimana firman-Nya subhanahu : "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikru, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya". (QS. Al-Hijr : 9). Ibnul Qoyyim berkata : "Alloh Ta'ala telah menjamin penjagaan sesuatu yang diwahyukan dan diturunkan kepadanya r; demikian itu untuk senantiasa tegaknya hujjah Alloh kepada para hamba sampai akhir masa".
4- أن هذا الأصل هو حجة الله التي أنزلها على خلقه.
قال الشافعي: ".........لأن الله جل ثناؤه أقام على خلقه الحجة من وجهين، أصلهما في الكتاب: كتابه ثم سنة نبيه".
وقال ابن القيم: "إن الله سبحانه قد أقام الحجة على خلقه بكتابه ورسله، فقال: ]تبارك الذي نزل الفرقان على عبده ليكون للعالمين نذيرًا[ [الفرقان: 1].
وقال: ]وأوحى إلي هذا القرآن لأنذركم به ومن بلغ[ [الأنعام: 19]. فكل من بلغه هذا القرآن فقد أنذر به وقامت عليه حجة الله به".
4. Al-Qur'an dan as-Sunnah merupakan hujjah Alloh yang Dia turunkan kepada makhluk-Nya.
Imam Syafi'i berkata : "… karena Alloh Jalla Tsanauhu menegakan hujjah kepada para hambanya dari dua sisi. Pokok keduanya (disebutkan dalam –pen) dalam al-Kitab : KitabNya (al-Qur'an) kemudian sunnah nabinya r".(Ar-Risalah, h. 221).
Ibnul Qoyyim berkata : "Alloh subhanahu telah menegakan hujjah kepada para hambanya; yakni dengan kitabNya dan sunnahnya r. Alloh Ta'ala berfirman : "Maha Suci Allah yang Telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam". (QS. Al-Furqon : 1).
Alloh berfirman : "… dan Al-Quran ini diwahyukan supaya dengan dia Aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya)". Barangsiapa telah sampai kepadanya al-Qur'an maka Dia telah memberikan peringatan dan telah tegak pula hujjah tersebut dengannya.
5- أن هذا الأصل هو جهة العلم عن الله وطريق الإخبار عنه سبحانه.
قال ابن عبد البر: "وأما أصول العلم فالكتاب والسنة يوضحه".
5. Al-Qur'an dan as-Sunnah merupakan cara untuk mengetahui Alloh dan sebagai jalan pengkabaranNya subhanahu.
Ibnu Abril Bar berkata :Pokok ilmu kiatbulloh dan sunnah menjelaskannya".
6- أن هذا الأصل هو طريق التحليل، والتحريم، ومعرفة أحكام الله، وشرعه.
قال ابن تيمية: "وأوجب عليهم الإيمان به، وبما جاء به، وطاعته، وأن يحللوا ما حلل الله ورسوله، ويحرموا ما حرم الله ورسوله....".
6. Al-Qur'an dan as-Sunnah merupakan jalan penghalalan dan pengharaman. Serta sebagi jalan pengetahuan bagi hukum-hukum dan syari'at-syari'atNya Ta'ala.
Ibnu Taimiyah berkata : "Dia telah mewajibkan iman dengannya r, dengan yang dia r datang dengannya, manta'atinya, menghalalkan segala sesuatu yang telah dihalalkan Alloh dan RosulullNya, serta mewajibkan untuk mengharamkan segala sesuatu yang Alloh dan rosulNya haramkan...".
7- وجوب الاتباع لهذا الأصل، ولزوم التمسك بما فيه.
قال الشافعي: ".......وأنه لا يلزم قول بكل حال إلا بكتاب الله، أو سنة رسول r".
7. Wajib mengikuti al-Qur'an dan as-Sunnah, serta wajib pula untuk berpegang teguh dengan segala sesuatu yang terdapat di dalamnya".
Imam Syafi'i berkata : "... tidak harus mengambil setiap perkataan kecuali yang terdapat di dalam kitab Alloh atau sunnah rosululloh r".
8- أن وجوب اتباع هذا الأصل عام، فلا يجوز ترك شيء مما دل عليه هذا الأصل، أبدًا، وتحرم مخالفته على كل حال.
قال ابن عبد البر: ".....وقد أمر الله عز وجل بطاعته r واتباعه أمرًا مطلقًا مجملاً، لم يقيد بشيء – كما أمرنا باتباع كتاب الله – ولم يقل وافق كتاب الله، كما قال بعض أهل الزيغ.
8. Kewajiban mengikuti as-Sunnah merupakan kewajiban yang umum. Tidak boleh meninggalkan sesuatu yang telah ditunjukan olehnya, selamanya. Diharamkan menyelisinya pada setiap kondisi.
Ibnu Abdil Bar berkata : "... Alloh telah memerintahkan untuk menta'ati dan mengikutinya r; dengan perintah yang mutlak lagi mujmal, tidak terikat dengan sesuatu –sebagaimana Dia Ta'ala memerintahkan kita untuk mengikuti kitabulluh–. Tidaklah disebutkan yang sesuai dengan kitabulloh, sebagimana diungkapkan oleh sebagian ahli zaigh (orang-orang yang condong kepada kesesatan dan yang mutasyabihat).
9- وجوب التسليم التام لهذا الأصل وعدم الاعتراض عليه.
خصص الخطيب البغدادي لذلك بابًا في كتاب "الفقيه والمتفقه"، فقال: "باب تعظيم السنن، والحث على التمسك بها، والتسليم لها، والانقياد إليها، وترك الاعتراض عليها".
9. Wajib tunduk secara sempurna kepada al-Qur'an dan as-Sunnah dan tidak menentangnya.
Khotib al-Baghdadi mengkhususkan poin ini dengan sebuah bab pada kitab "Al-Faqih wal-Mutafaqih". Beliau berkata : "Bab tentang keharusan mengagungkan sunnah, anjuran berpegang teguh dengannya, tunduk pasrah kepadanya dan tidak mengadakan bantahan kepadanya".
10- أن معارضة هذا الأصل قادح في الإيمان.
قال ابن القيم: "إن المعارضة بين العقل ونصوص الوحي لا تتأتى على قواعد المسلمين المؤمنين بالنبوة حقًا، ولا على أصول أحد من أهل الملل المصدقين بحقيقة النبوة، وليست هذه المعارضة من الإيمان بالنبوة في شيء، وإنما تتأتى هذه المعارضة ممن يقر بالنبوة على قواعد الفلسفة".
10. Menentang al-Qur'an dan as-Sunnah mencacati keimanan.
Ibnul Qoyyim berkata : "Mempertentangkan akal dengan nas wahyu tidak di dapatkan dalam kaidah orang-orang muslim; yang beriman dengan serenar-benar keimanan kepada nubuwah. Demikian pula tidak ada pada pokok salah satu agama yang membenarkan hakikat kenabian. Penentangan terhadap nas tidak mungkin bersumber dari iman kepada nubuwah. Hanya saja yang demikian itu muncul dari orang-orang yang beriman kepada nubuwah dengan metodelogi berfikirnya orang-orang falasifah".
11- أن هذا الأصل به تفض المنازعات، وإليه ترد الخلافات، كما قال سبحانه:]فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول[ [النساء: 59]، وقال جل شأنه: ]وما اختلفتم فيه من شيء فحكمه إلى الله[ [الشورى: 10].
11. Seluruh pertentangan diputuskan dengan al-Qur'an. Kepadanya pula seluruh perselisishan dikembalikan. Sebagimana firman subhanahu : "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya),...". (QS. An-Nisa : 59). Firman-Nya Jalla wa 'Alla : "Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, Maka putusannya (terserah) kepada Allah". (QS. As-Syuro : 10).
قال الشافعي: "ومن تنازع ممن بعد رسول الله رد الأمر إلى قضاء الله ثم قضاء رسوله، فإن لم يكن فيما تنازعوا فيه قضاء نصا فيهما ولا في واحد منهما ردوه قياسًا على أحدهما".
Imam Syafi'i berkata : "Barangsiapa berselisih, dari orang-orang sesudah Rosululloh maka perkara tersebut dikembalikan kepada keputusan Alloh kemudian Rosul-Nya. Jika bagi sesuatu yang mereka perselisihan tersebut tidak didapatkan nas pada keduanya atau pada salah satunya, maka mereka harus mengqiaskan urusannya kepada salah satu dari keduanya".
وقال ابن تيمية: "فإذا تنازع المسلمون في مسألة وجب ردّ ما تنازعوا فيه إلى الله والرسول، فأي القولين دل عليه الكتاب والسنة وجب اتباعه".
Ibnu Taimiyah berkata : "Jika kaum muslimin berselisih pada suatu masalah, maka mereka wajib mengembalikan permasalahan tersebut kepada Alloh dan Rosul. Perkataan yang mana saja, yang telah dibenarkan oleh al-Kitab dan as-Sunnah maka wajib mengikutinya".
12- أن هذا الأصل يوجب تغيير الفتوى لمن أفتى بخلافه.
وقد بوب الدارمي لذلك في سننه، فقال: "باب الرجل يفتي بشيء، ثم يبلغه عن النبي r، فرجع إلى قول النبي r".
12. Al-Qur'an dan as-Sunnah mewajibkan berubahnya fatwa; bagi orang-orang yang berfatwa menyelisihinya.
Ad-Darimi telah membuat suatu bab tentang masalah ini dalam kitab "Sunan"nya : Bab Tentang Seseorang yang Berfatwa Mengenai Sesuatu, Kemudian Sampai Kepadanya Hadits nabi r, Maka Ia Harus Kembali Kepada Sabda Nabi r Tersebut.
13- أن هذا الأصل يوجب الرجوع عن الرأي وطرحه إذا كان مخالفًا له.
وقد خصص الخطيب البغدادي لذلك بابًا في كتابه "الفقيه والمتفقه" فقال: "ذكر ما روي من رجوع الصحابة عن آرائهم التي رأوها إلى أحاديث النبي r إذا سمعوها ووعوها".
13. Setiap pendapat yang menyelisihi al-Qur'an dan as-Sunnah harus ditinggalkan.
Al-Khotib Al-Baghdadi mengkhususkan pembahasan ini dalam kitabnya 'Al-Faqih wal Mutafaqih", beliau berkata : "Penyebutan riwayat tentang kembalinya para sahabat dari pendapat yang mereka pilih kepada hadits-hadits nabi r tatkala mereka mendengar dan mengetahuinya".
15-أن هذا الأصل هو الإمام المقدم، فهو الميزان لمعرفة صحيح الآراء من سقيمها.
قال الشافعي: "..... وأن يجعل قول كل أحد وفعله أبدًا تبعًا لكتاب الله ثم سنة رسوله".
وقال ابن عبد البر: "واعلم يا أخي أن السنة والقرآن هما أصل الرأي والعيار عليه، وليس الرأي بالعيار على السنة؛ بل السنة عيار عليه".
14. Al-Qur'an dan as-Sunnah merupakan imam yang didahulukan, ia merupakan timbangan untuk mengetahui benar dan salahnya suatu pendapat.
Imam Syafi'i berkata : "...Hendaknya senantiasa menjadikan seluruh pendapat mengikuti kitab Alloh kemudian sunnah rosul-Nya r.
Ibnu Abdil Bar berkata : "Ketahuilah saudaraku, as-Sunnah dan al-Qur'an; keduanya merupakan pijakan dan timbangan setiap pendapat. Pendapat bukanlah timbangan bagi sunnah, bahkan sunnah merupakan timbangan bagi pendapat tersebut".
16-أن هذا الأصل إذا وجد سقط معه الاجتهاد وبطل به الرأي، وأنه لا يصار إلى الاجتهاد والرأي إلا عند عدمه، كما لا يصار إلى التيمم إلا عند عدم الماء.
15. Jika didapatkan al-Qur'an dan as-Sunnah maka tidak ada ijtihad dan batal lah seluruh pendapat. Tidaklah menuju kepada ijtihad dan pendapat kecuali tatkala tidak adanya (dalil). Sebagaimana tidak melaksanakan tayamum kecuali tatkala tidak adanya air (atau dianggap tidak ada –pen).
16- أن إجماع المسلمين لا ينعقد على خلاف هذا الأصل أبدًا قال الشافعي: "..أو إجماع علماء المسلمين، الذين لا يمكن أن يجمعوا على خلاف سنة له".
16. Kesepakatan kaum muslimin tidaklah akan menyelisihi al-Qur'an dan as-Sunnah.
As-Syafi'i berkata : "Atau kesepakatan ulama islam, yang tidak mungkin mereka bersepakat untuk menyelisihi sunnah".
17- أن القياس موافق لهذا الأصل، فلا يختلفان أبدًا.
17. Qias/analogi(yang sahih) sesuai dengan al-Qur'an dan as-Sunnah. Keduanya tidak akan saling bertentangan; selamanya.
19- أن هذا الأصل لا يُعارض العقل، بل إن صريح العقل موافق لصحيح النقل دائمًا.
18. Al-Qur'an dan as-Sunnah didahulukan jika terdapat pertentangan dengan akal, bahkan yang benar : Akal yang sehat senantiasa sesuai dengan naql yang sahih.
19- أن هذا الأصل يقدم على العقل إن وجد بينهما تعارض في الظاهر.
19. Al-Qur'an dan as-Sunnah didahulukan daripada akal; yakni jika ditemukan pertentangan secara dzohir.
20- أن هذا الأصل كله حق لا باطل فيه.
20. Al-Qur'an dan as-Sunnah seluruhnya haq (benar), tidak ada kebathilan di dalamnya.
21- أن هذا الأصل لا يمكن الاستدلال به على إقامة باطل أبدًا؛ من وجهٍ صحيح.
21. Selama-lamanya, al-Qur'an dan as-Sunnah tidak mungkin dijadikan suatu dalil untuk ditegakannya kebathilan; dengan sisi (pendalilan) yang benar.
22- أن هذا الأصل يحصل به العلم واليقين، خلافًا لمن قال: إن الأدلة السمعية لا تفيد إلا الظن.
22. Dengan al-Qur'an dan as-Sunnah dicapai ilmu dan yakin. Berbeda dengan yang berkata : Dalil syam'iyah tidak memberikan faidah kecuali dzon.
23- أن في هذا الأصل الجواب عن كل شيء، إذ هو مشتمل على بيان جميع الدين أصوله وفروعه.
قال الشافعي: "فليست تنزل بأحد من أهل دين الله نازلة إلا وفي كتاب الله الدليل على سبيل الهدى فيها".
23. Dalam al-Qur'an dan as-Sunnah terdapat segala jawaban dari setiap permasalahan; karena ia mencakup segala penjelasan agama, usuhl dan purunya.
Imam syafi'i berkata : "Tidak ada suatu kejadian yang terjadi pada diri seorang; ahli dienulloh kecuali dalam kitab Alloh ada petunjuk atas jalan hidayah bagi kejadian tersebut.
24- أن هذا الأصل واضح المعاني ظاهر المراد، لا لبس في فهمه ولا غموض.
24. Al-Qur'an dan as-Sunnah jelas makna dan maksudnya. Tidak ada kesamaran dan kerancuan untuk memahaminya.
25- أن في التمسك بهذا الأصل الخير والسعادة والفلاح، وفي مخالفته والإعراض عنه الشقاء والضلال.
25. Berpegang teguh dengan al-Qur'an dan as-Sunnah merupakan kebaikan, kebahagiaan dan keberuntungan. Sebaliknya, menyelisihi dan berpaling darinya merupakan kebinasaan dan kesesatan.
26- أن هذا الأصل لابد له من تعظيم وتوقير وإجلال.
وقد بوب الدارمي في سننه لذلك بقوله: "باب تعجيل عقوبة من بلغه عن النبي r حديث فلم يعظمه ولم يوقره".
وكذلك صنع الخطيب البغدادي في كتاب "الفقيه والمتفقه"، فقال: "باب تعظيم السنن....".
وبوب ابن عبد البر في جامعه قائلاً: "باب ذكر بعض من كان لا يحدث عن رسول الله إلا وهو على وضوء".
26. Al-Qur'an dan as-Sunnah wajib dimuliakan, dihormati dan diagungkan.
Ad-Darimi dalam kitab sunanya menyebutkan suatu bab : Bab tantang disegerakannya siksa bagi orang-orang yang telah sampai kepadanya hadits nabi r dan tidak menghormati dan memuliakannya.
29- أن هذا الأصل ترجع إليه جميع الأدلة: المتفق عليها والمختلف فيها كذلك.
27. Seluruh dalil kembali kepada al-Qur'an dan as-Sunnah : Dalil yang disepakati dan dalil yang diperselisihkan.
***
Sebab-Sebab Perselisihan Pendapat Di Kalangan Para Sahabat[1]
1. Sebagian dari mereka mendengar suatu hukum atau fatwa, sedangkan sebagian yang lainnya tidak mengetahuinya. Maka yang tidak mendengar tersebut berijtihad pemikirannya.
2. Para sahabat melihat rosululloh r melakukan suatu amalan, kemudian sebagian sahabat memandangnya sebagi bentuk mendekatkan diri kepada Alloh, sedangkan yang lainnya memandang sebagai suatu kebolehan/mubah.
3. Perbedaan pendapat dikarenakan suatu praduga.
4. Berbeda pendapat disebabkan lupa.
5. Perbedaan pendapat disebabkan suatu analisis yang kurang akurat.
6. Perbedaan pendapat dalam menentukan 'illah suatu hukum.
7. Berbeda pendapat dalam mengkompromikan suatu hadits.
Perbedaan Pendapat Para Ulama
Para ulama telah sepakat dengan kesepakatan yang pasti, bahwa wajib mengikuti rosul r. Mereka pun sepakat bahwa setiap manusia diambil dan ditinggalkan pendapatnya, kecuali rosul r. Akan tetapi, jika didapatkan suatu pendapat dari salah seorang mereka yang menyelisihi hadits yang sahih, maka harus memberikan alasan ditinggalkannya hadits tersebut.
Kemudian ketahuilah, bahwa seluruh udzur/alasan bagi para imam tersebut memiliki tiga bentuk :
1. (عَدَمُ اعْتِقَادِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَهُ)Tidak adanya keyakinan bahwa Nabi r telah bersabda dengannya.
Penyebab terjadinya udzur di atas adalah :
a. Hadits tersebut sama sekali tidak sampai kepadanya. Jika hadits tersebut tidak sampai kepadanya maka dia tidak terbebani untuk mengetahui kemestiannya.
Tapi terkadang ada hadits belum sampai kepadanya –akan tetapi pendapat dia telah sesuai dengan hadits tersebut, demikian itu disebabkan dzohir ayat atau hadits yang lainnya; atau dikarenakan qias/analogi; atau disebabkan kemestian istishab-.
b. Hadits tersebut telah sampai kepadanya, akan tetapi hadits tersebut tidak tsubut di sisinya.
c. Dia meyakini kedzlhoifan hadits tersebut dengan ijtihad yang menyalahi selain dirinya, dibarengi tidak adanya penelitian pada jalan-jalan hadits tersebut. Sama saja kebenaran ada bersamanya atau pun bersama yang lainnya.
d. Disyaratkanya adil dan dlzobith pada khobar ahad; yakni menentukan syarat yang menyelisihi ulama yang lain.
e. Hadits tersebut telah sampai kepadanya dan sahih pula menurutnya, akan tetapi ia lupa dengan hadits tersebut.
2. (عَدَمُ اعْتِقَادِهِ إرَادَةَ تِلْكَ الْمَسْأَلَةِ بِذَلِكَ الْقَوْلِ) Tidak adanya keyakinan bahwa hadits tersebut sebagi jawaban untuk masalah tertentu. Hal demikian karena beberapa sebab, diantaranya:
a. Tidak mengetahui dalalah hadits, kadang dikarenakan lafadz hadits tersebut asing di sisinya dan para ulama pun berselisih pendapat dalam menafsirkannya. Terkadang pula dikarenakan dia menafsirkan hadits tersebut berdasarkan bahasa dan kebiasaannya, bukan dengan bahasa nabi r. Dan seterusnya,
b. Keyakinan bahwa dalam hadits tersbut tidak terdapat dalil yang menunjukan pada permasalahan.
Perbedaan yang kedua dengan yang pertama adalah : Yang pertama tidak mengetahui tujuan pendalilannya, sementara yang kedua ini mengetahui tetapi tidak meyakininya sebagai dalil yang sahih.
c. Adanya keyakinan bahwa hadits tersebut bertentangan dengan dalil yang menunjukan bahwa bukan demikian yang di inginkan oleh hadits.
3. (اعْتِقَادُهُ أَنَّ ذَلِكَ الْحُكْمَ مَنْسُوخٌ)Keyakinannya; bahwa hukum tersebut telah dihapus.
Maka kewajiban setiap mulslim adalah mengambil pendapat yang sesuai dengan hadits yang sahih. Tidak boleh bagi kita untuk mengikuti pendapat yang tidak di dukung oleh hadits yang sahih, atau yang didasarkan pada sakwa prasangka.
Sistematika Pembahasan :
1. Menyebutkan Derajat Hadits. Kami bersandar kepada perkataan ahli hadits zaman ini. Al-Muhadits Al-Imam Nashiruddin Al-Albani rohimahulloh.
2. Menjelaskan lafadz-lafadz hadits. Secara bahasa dan istilah.
3. Berusaha menyebutkan wurudul hadits, sesuai dengan kelemahan kami.
4. Faidah Hadits. Pada keumumannya bersandar kepada kitab:
§ Fathu Dzil Jalali wal Ikrom bi Syari Bulughil Marrom karya Syaikh Al-'Alamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
§ Taudihul Ahkam min Bulughil Marrom karya Syaikh Abdulloh bin Abdurrohman Al-Bassam.
§ Tashilul Ilmam bi Fiqhil Ahadits min Bulughil Marrom karya Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdulloh Al-Fauzan rohimahumulloh.
§ Syarhu Bulughul Marrom, Syaikh Shalih Alu Syaikh.
§ Minhatul 'Alam fi Syarhi Bulughil Marrom, Syaikh Abdulloh bin Shalih Al-Fauzan.
5. Perbedaan pendapat kami sebutkan di dalam catatan kaki.
***
بسم الله الرحمن الرحيم
قال الحافظ ابن حجر العسقلاني :
الحمد لله على نعمه الظاهرة والباطنة قديما وحديثا والصلاة والسلام على نبيه ورسوله محمد وآله وصحبه الذين ساروا في نصرة دينه سيرا حثيثا وعلى أتباعهم الذين ورثوا علمهم والعلماء ورثة الأنبياء أكرم بهم وارثا وموروثا أما بعد
فهذا مختصر يشمل على أصول الأدلة الحديثية للأحكام حررته تحريرا بالغا ليصير من يحفظه من بين أقرانه نابغاً ، ويستعين به الطالب المبتدئ ولا يستغني عنه الراغب المنتهي .
وقد بينت عقب كل حديث من أخرجه من الأئمة لإرادة نصح الأمة .
فالمراد بالسبعة أحمد والبخاري ومسلم وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجة ، وبالستة من عدا أحمد ، وبالخمسة من عدا البخاري ومسلم . وقد أقول الأربعة وأحمد ، وبالأربعة من عدا الثلاثة الأول ، وبالثلاثة من عداهم وعدا الأخير ،وبالمتفق البخاري ومسلم ، وقد لا أذكر معهما ، وما عدا ذلك فهو مبين .
وسميته بُلُوغُ اَلْمَرَامِ مِنْ أَدِلَّةِ اَلْأَحْكَامِ ، والله أسأله أن لا يجعل ما علمناه علينا وبالاً ، وأن يرزقنا العمل بما يرضيه سبحانه وتعالى.
Kandungan Muqoddimah Ibnu Hajar :
1. Sanjungan kepada Alloh Ta'ala; Beliau tidak memulai dengan khutbatul hajah, karena ahli ilmu menjadikan khutbatul hajah tatkala mau khutbah secara lisan, adapun khutbah secara tulisan mereka memulai dengan sanjungan yang sesuai dengan cakupan permasalahan tulisan tersebut.
2. Sholawat dan salam atas Rosululloh r. Beliau menyatukan sholawat dan salam; karena mengikuti perintah Alloh Ta'ala.
3. Menyebutkan keutamaan para sahabat r dan orang-orang yang mengikuti mereka; secara khusus para ulama pewaris para nabi.
4. Keharusan menghormati waritsul 'ilmi (para ulama dan para pencari ilmu) dan maurutsun (yang diwarisakan olehnya r). Muliakan mereka dan apa yang dibawa oleh mereka.
5. Kitab ini berisi hadits-hadits hukum.
6. Kitab ini dibutuhkan oleh para pemula dan para senior; para pencari ilmu.
7. Menyebutkan para imam yang mengeluarkan hadits. Beliau bermaksud memberikan nasihat kepada umat.
8. As-Sab'ah : Ahmad, Bukhori, Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah.
9. AS-Sittah : As-Sab'ah selain Ahmad.
10. -Khomsah : As-sab'ah selain Bukhori dan Muslim.
11. Al-Arba'ah dan Ahmad
12. Al-Arba'ah : Selain tiga yang pertama dari as-sab'ah.
13. Ats-Talatsah : Selain Al-Arba'ah dan Ibnu Majah.
14. Al-Mutafaq : Bukhori dan Muslim.
15. Beliau kadang tidak menyebutkan yang lainnya setelah menyebutkan mutafaq (Bukhori dan Muslim). Karena umat telah menerima kedua kitab tersebut.
16. Selain yang tercantum pada istilah di atas maka beliau akan menjelaskannya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ayo ikikan komentarmu disini, blog ini DoFollow kok!